AUTISME MEMILIKI OTAK YANG LEBIH SIMETRIS


Infokito - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa koneksi otak kanan dan kiri pada anak dan remaja dengan autism spectrum disorder (ASD) lebih simetris. Kondisi yang simetris ini menunjukkan bahwa 'pembagian tugas' pada otak anak dan remaja dengan ASD sangat berbeda dengan anak dan remaja tanpa autisme.

Untuk mengetahui hal tersebut, tim peneliti dari San Diego State University melakukan analisa terhadap hasil MRI otak anak dan remaja. Sebanyak 41 anak dan remaja yang terlibat memiliki ASD dan 44 lainnya merupakan anak dan remaja tanpa autisme. Dari penelitian ini, tim peneliti berupaya untuk menganalisa seberapa rapat koneksi yang terdapat pada area white matter berbeda di dua belahan otak, yaitu otak kanan dan kiri.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak dan remaja tanpa autisme memiliki koneksi yang lebih rapat pada otak kanan dibandingkan otak kiri. Temuan ini mendukung anggapan bahwa otak kanan memiliki fungsi integratif yang lebih besar dalam menyatukan berbagai jenis informasi.

Salah satu peneliti, Ralph-Axel Müller, mengatakan bahwa koneksi yang tidak simetris pada otak ini menunjukkan adanya pembagian kerja antara otak kanan dan kiri. Seperti diketahui, otak kanan dan kiri memang memproses informasi dengan cara yang sangat berbeda.

Otak kiri, menurut penelitian, memiliki peran yang lebih besar dalam memproses bahasa dan berbicara. Selain itu, otak kiri juga dinilai lebih terlibat dalam proses menganalisa detail yang spesifik dalam suatu situasi.

Sedangkan otak kanan, menurut tim peneliti, cenderung lebih fokus terhadap rangsangan audio dan juga visual. Otak kanan ini bertugas untuk mengintegrasi detail-detail dan berbagai rangsangan yang ada ke dalam sebuah kesatuan yang saling berkaitan. Cara otak kanan dan kiri yang saling bekerjasama dalam mengombinasikan fungsi-fungsi otak yang berbeda ini yang membantu individu melihat dan memberi respon dalam kehidupan. 

Akan tetapi, hasil berbeda ditemukan pada hasil scan otak anak dan remaja dengan ASD. Tim peneliti menemukan bahwa koneksi otak pada kelompok ini terlihat lebih simetris di otak kanan dan kiri. Kondisi yang lebih simetris ini mengindikasikan bahwa pembagian kerja antara otak kiri dan kanan pada anak dan remaja dengan ASD cenderung lebih rendah.

Kurangnya 'spesialisasi' antara otak kanan dan kiri ini dinilai tim peneliti berkontribusi terhadap koherensi pusat yang lemah pada anak dan remaja dengan ASD. Hal ini yang kemudian membuat anak dengan ASD cenderung sangat fokus terhadap satu hal dan acuh pada sekelilingnya. "Ide di balik asimetri pada otak ini adalah adanya pembagian kerja antara kedua belahan otak. Tampaknya pembagian kerja ini menurun pada orang dengan autism spectrum disorder," kata Müller seperti dilansir Science Alert.

Hasil penelitian ini dinilai dapat memberi pemahaman yang lebih baik untuk memahami orang-orang dengan ASD dalam melihat dunia. Hanya saja, saat ini tim peneliti belum benar-benar memahami apakah kondisi simetris pada otak ini memainkan peranan dalam perbedaan kemampuan kognitif antara individu dengan ASD dan individu tanpa autisme.

Tim peneliti juga belum bisa memastikan apakah kondisi simetris ini yang menyebabkan terjadinya autisme, atau autisme yang menyebabkan kondisi simetris pada otak. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dinilai perlu didukung oleh penelitian lanjutan dalam skala yang lebih besar.


sumber: ROL